Ahmad Sahidah
Dosen Program S3 Al-Qur’an dan Media Sosial
Universitas Nurul Jadid
Sejak kecil, saya terbiasa melakukan pekerjaan rumah, seperti menyapu dan mencuci, berbareng kerabat di rumah. Sekali waktu, saya pernah membantu ayah menanam bibit kacang di sawah tak jauh dari sungai kampung halaman. Kebiasaan melakukan pekerjaan rumah ini tetap dilakukan sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari. Kala mencuci piring di dapur, Zumi dan Biyya melihat rutinitas tersebut sehingga keduanya memandang langsung apa nan dilakukan sang ayah.
Dari keasyikan membersihkan piring dan cangkir ini, saya pun merenung bahwa ternyata keseharian itu adalah bentuk dari pikiran dan perasaan, bukan sekadar rutinitas nan membosankan. Seperti kata Edward de Bono, kejemuan itu datang lantaran aktivitas nan berulang-ulang, nan sering menimpa banyak orang. Namun, aktivitas tersebut tidak sedangkal itu. Hidup tidak kudu ditandai dengan momen-momen luar biasa.
Malah, Henry Levebvre, filsuf dan sosiolog Perancis, menegaskan dalam Critique of Everyday Life bahwa kajian tentang kehidupan sehari-hari menunjukkan dengan jelas bahwa orang-orang nan mempunyai rahasia, kehidupan batin, dan sisi-sisi misterius, tetap menjalani kehidupan sehari-hari nan biasa-biasa saja (hlm. 259). Saya memandang dari dekat sosok berilmu nan dikenal mempunyai karamah, kemulian berupa sesuatu di luar logika manusia yang Allah berikan pada para wali, namun dalam keseharian dia tampak berjalan, bercakap, berkelakar, dan mengajar kitab kuning seperti orang pada umumnya.
Pernyataan di atas merupakan kritik Lefebvre terhadap kecenderungan kaum intelektual dan makulat eksistensial nan menganggap bahwa kehidupan nan bermakna selalu tersembunyi di kembali sesuatu nan luar biasa, dramatis, alias misterius. Bagaimanapun, orang nan paling rumit sekalipun tetap kudu bangun pagi, mandi, bekerja, mencuci piring, mengantar anak, membeli sayur, bayar tagihan, dan tidur.Lagi-lagi ini mengingatkan saya pada seorang ustad nan memipil jagung (ngorpeng jhâghung) sembari membaca selawat. Bukankah ini merupakan bentuk dari sintesis material dan spiritual dalam satu tarikan napas?
Dengan kata lain, kedalaman jiwa hidup berdampingan dengan rutinitas nan tampak biasa. Mengapa ini penting? Lefebvre mau membongkar mitos bahwa makna hidup hanya ada pada pengalaman-pengalaman hebat. Sebaliknya, dia mengatakan bahwa makna justru selalu datang di dalam keseharian. Ia bukan panggung nan kosong. Di kembali seseorang nan sedang menyeruput kopi, naik bus, menyapu halaman, alias duduk diam, bisa saja sedang mengalami pergulatan jiwa nan sangat dalam.
Kadang apa nan tampak misterius itu sebenarnya remeh-temeh, dan apa nan tampak luar biasa itu sebenarnya biasa-biasa saja. Falsafah Jawa mengajar ojo gumunan, (jangan mudah terpukau) bukan? Mau bukti? Lihat karnaval! Malah apa nan dilihat dahsyat kadang tampak seperti lelucon. Apa nan dianggap spektakuler, baju raja, ditanggalkan. Ia kembali hidup dalam tindakan sehari-hari. Dalam logika masyarakat modern, panggung sering lebih dihargai daripada dapur, padahal kehidupan sesungguhnya justru berjalan di dapur, ruang keluarga, sawah, kantor, dan jalan nan kita lalui setiap hari.
Memang, karnaval itu perlu dihadirkan untuk jarak material.Namun, tanpa kritik, dia sekadar panggung seremoni dangkal. Mengapa kedudukan mentereng di atas panggung itu dielu-elukan? Karena struktur jenjang sosial kita masih mengagungkan simbol-simbol kedudukan. Ada kelas pemimpin dan bawahan nan justru hanya diperankan oleh orang kebanyakan. Jelas, pawai ini hendak mengajar kita untuk memandang kehidupan sehari-hari sebagai hiburan.
Pendek kata, hidup nan berarti tidak kudu dicari dalam hal-hal nan spektakuler, melainkan dihayati dan diwujudkan dalam tindakan-tindakan mini kita setiap hari. Hikmah Urip Iku Urup(Hidup itu Menyala) mengajarkan kita bahwa hidup baru berarti ketika kita bisa memberikan faedah (“nyala”) bagi orang lain di sekitar kita. Maknanya sangat praktis, ialah dalam keseharian manusia, kita diajak untuk selalu peduli dan memberi akibat positif, sekecil apa pun, kepada sesama dan lingkungan. Adakah Anda tetap hidup di atas panggung?
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk berburu panggung, padahal hidup sedang berjalan ketika kita mencuci piring, menemani anak belajar, menyapu halaman, alias berbincang dengan tetangga. Di sini manusia dibentur dan dibentuk. Lalu,makna tumbuh secara kukuh. Pertanyaannya, masihkah kita menganggap keseharian sebagai sesuatu nan remeh-temeh?

1 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·